Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, Ahmad Zharfan, alumnus Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) angkatan 2022, saat ini sedang menempuh studi Magister Hukum atau Master of Laws (LLM) di Australian National University (ANU), Canberra, Australia.
Sebagai penerima Beasiswa Australia Awards, Zharfan membagikan kisah perjalanannya menembus seleksi beasiswa bergengsi ini, dengan harapan dapat membawa pulang wawasan hukum internasional untuk berkontribusi bagi dunia hukum di Aceh dan Indonesia.
Dari sekian banyak universitas ternama di Australia, Zharfan memilih ANU karena reputasinya sebagai salah satu sekolah hukum terbaik di negara tersebut. Lokasinya di Canberra, ibu kota Australia, turut menjadi pertimbangan penting baginya, karena kedekatannya dengan Parlemen Australia, Mahkamah Agung (High Court), serta berbagai lembaga pemerintahan dan organisasi hukum internasional.
“ANU memberi saya akses langsung ke pusat kebijakan dan hukum negara ini. Belajar hukum sambil dikelilingi institusi yang menjadi subjek pembelajaran saya sendiri adalah pengalaman yang tidak saya temukan di tempat lain,” ujar Zharfan.
Sebelum berangkat, Zharfan mengikuti Pre-Departure Training yang diselenggarakan Australia Awards di Bali. Program ini mempertemukannya dengan sesama penerima beasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus membekali para awardee dengan pemahaman awal mengenai kehidupan akademik dan budaya di Australia sebelum benar-benar berangkat ke negara tujuan.
Setibanya di Canberra, Zharfan mengikuti Introduction Academic Program yang diselenggarakan ANU untuk mahasiswa internasional. Program ini menjadi jembatan penting baginya untuk memahami ekspektasi akademik, gaya penulisan ilmiah, serta sistem perkuliahan di ANU sebelum semester resmi dimulai.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Zharfan adalah perbedaan mendasar antara sistem hukum yang selama ini dipelajarinya di Indonesia dengan sistem hukum di Australia. Indonesia menganut tradisi hukum sipil (civil law) yang berakar dari sistem hukum Eropa Kontinental, sementara Australia menganut sistem common law yang sangat bergantung pada preseden dan putusan pengadilan.
“Di Indonesia, saya terbiasa belajar dari kodifikasi dan pasal-pasal undang-undang. Di ANU, saya harus membaca dan menganalisis ratusan putusan pengadilan setiap minggu, lalu menyusun argumen berdasarkan preseden yang relevan. Awalnya cukup berat, tetapi cara berpikir seperti ini justru mengasah ketajaman analisis hukum saya,” jelas Zharfan.
Perkuliahan di ANU juga menuntut partisipasi aktif dalam diskusi kelas, di mana setiap mahasiswa didorong untuk mempertanyakan dan memperdebatkan argumen hukum secara terbuka, sesuatu yang menurutnya berbeda dari suasana kelas yang lebih satu arah semasa kuliah di USK.
Untuk membangun jejaring dan tetap terhubung dengan sesama pelajar Indonesia, Zharfan bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) cabang ANU. Melalui PPIA, ia menemukan komunitas yang membantunya beradaptasi dengan kehidupan di Canberra, sekaligus menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung sesama mahasiswa Indonesia.
Di lingkungan akademiknya sendiri, Zharfan aktif bergabung dengan ANU Law Society, organisasi mahasiswa hukum yang rutin mengadakan seminar, diskusi, dan acara networking dengan praktisi hukum. Keterlibatannya di organisasi ini membuka kesempatan baginya untuk berinteraksi dengan mahasiswa hukum dari berbagai negara, sekaligus memperluas pemahamannya tentang praktik hukum internasional.
“Bergabung dengan ANU Law Society dan PPIA sama-sama penting bagi saya. Yang satu menghubungkan saya dengan dunia hukum internasional, yang satu lagi menjaga saya tetap terhubung dengan identitas dan komunitas Indonesia saya,” katanya.
Meski harus beradaptasi dengan sistem hukum, gaya belajar, dan budaya yang berbeda, Zharfan memandang pengalamannya di ANU sebagai investasi jangka panjang untuk masa depan hukum di Aceh. Ia berharap dapat menerapkan perspektif hukum internasional yang diperolehnya untuk mendorong pembaruan dan penguatan sistem hukum di tanah kelahirannya.
“Studi di luar negeri bukan tentang meninggalkan Aceh, melainkan tentang mempersiapkan diri untuk kembali dan memberi kontribusi yang lebih besar. Saya berharap perjalanan ini dapat menginspirasi lebih banyak lulusan Fakultas Hukum USK untuk berani mengejar pendidikan hukum di level internasional,” pungkas Zharfan.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






