Kontroversi VAR di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Kontroversi VAR di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

ACEHINDEPENDENT.COM –Piala Dunia 2026 langsung diwarnai kontroversi wasit dan VAR pada pertandingan pembuka Grup A antara Meksiko dan Afrika Selatan. Laga yang berakhir dengan kemenangan Meksiko 2-0 itu mencatat sejarah sebagai pertandingan pembuka Piala Dunia dengan tiga kartu merah.

Mantan wasit elite Inggris, Andy Davies, yang kini menjadi analis perwasitan, menyoroti ketiga keputusan tersebut dan menjelaskan apakah keputusan wasit sudah sesuai dengan aturan permainan serta protokol VAR.

Bacaan Lainnya
Ads

Kartu Merah Pertama: Sphephelo Sithole (Afrika Selatan)

Menit ke-49

Afrika Selatan yang tertinggal 0-1 harus bermain dengan 10 orang setelah gelandang Sphephelo Sithole menerima kartu merah langsung.

Insiden bermula ketika gelandang Meksiko Brian Gutiérrez berhasil melewati Sithole dan berlari menuju gawang. Sithole kemudian menjatuhkan lawannya sebelum Gutiérrez sempat melepaskan tembakan.

Wasit Wilton Pereira Sampaio tanpa ragu mengeluarkan kartu merah, sementara VAR melakukan pemeriksaan dan mengonfirmasi keputusan tersebut.

Menurut Andy Davies, keputusan itu sangat tepat.

Gutiérrez memiliki peluang mencetak gol yang sangat jelas karena berada dalam posisi ideal untuk melakukan penyelesaian akhir. Pelanggaran tersebut memenuhi unsur Denial of an Obvious Goal-Scoring Opportunity (DOGSO) atau menggagalkan peluang emas mencetak gol.

Dengan demikian, Sithole tercatat sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah di Piala Dunia 2026.

Kartu Merah Kedua: Themba Zwane (Afrika Selatan)

Menit ke-84

Kontroversi terbesar terjadi saat pemain Afrika Selatan, Themba Zwane, mendapat kartu merah karena dianggap melakukan tindakan kekerasan terhadap pemain Meksiko Roberto Alvarado.

Awalnya wasit tidak memberikan kartu merah. Namun setelah mendapat rekomendasi VAR dan melihat tayangan ulang di monitor pinggir lapangan, ia mengubah keputusannya dan mengusir Zwane.

Insiden terjadi ketika Zwane berusaha melewati Alvarado. Dalam gerakannya, tangan Zwane mengenai wajah pemain Meksiko tersebut.

Menurut Davies, keputusan ini tergolong cukup keras.

Dalam aturan FIFA, tindakan memukul atau menyikut lawan pada area wajah memang berpotensi dikategorikan sebagai violent conduct atau tindakan kekerasan.

Namun Davies menilai kontak yang terjadi tidak cukup jelas untuk disebut sebagai tindakan brutal.

Ia bahkan melihat keraguan dari sang wasit karena membutuhkan waktu cukup lama saat meninjau tayangan ulang sebelum akhirnya mengeluarkan kartu merah.

Meski begitu, setelah dipanggil VAR dan melihat kontak pada wajah lawan, wasit kemungkinan merasa sulit untuk tidak menjatuhkan hukuman maksimal.

Kartu Merah Ketiga: César Montes (Meksiko)

Menit 90+2

Drama kembali terjadi pada masa injury time.

Afrika Selatan melancarkan serangan balik cepat dengan situasi empat pemain menyerang menghadapi tiga pemain bertahan Meksiko.

Khuliso Mudau berlari menuju kotak penalti sebelum dijatuhkan oleh bek Meksiko César Montes tepat di luar area penalti.

Wasit kembali mengeluarkan kartu merah langsung karena menilai Montes menggagalkan peluang emas mencetak gol.

VAR melakukan pemeriksaan dan memutuskan untuk tidak mengubah keputusan tersebut.

Namun Davies mengaku cukup terkejut dengan kartu merah tersebut.

Menurutnya, situasi itu belum sepenuhnya memenuhi unsur DOGSO.

Untuk dianggap sebagai peluang gol yang jelas, wasit harus yakin bahwa sentuhan berikutnya dari penyerang akan mengarah langsung ke gawang atau menghasilkan peluang mencetak gol yang sangat besar.

Dalam pandangan Davies, Mudau kemungkinan lebih memilih mengirim umpan silang kepada rekan setimnya dibanding langsung melepaskan tembakan ke gawang.

Karena itu, ia menilai situasi tersebut lebih tepat disebut sebagai peluang potensial mencetak gol, bukan peluang emas yang jelas.

Meski demikian, keputusan wasit tetap dapat dipertahankan karena penilaian mengenai arah serangan dan tindakan berikutnya dari pemain sangat bersifat subjektif.

VAR juga tidak memiliki dasar kuat untuk membatalkan keputusan tersebut karena tidak dapat dikategorikan sebagai kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious error).

VAR Jadi Sorotan di Hari Pertama

Tiga kartu merah dalam satu pertandingan langsung menjadikan VAR sebagai bahan perdebatan pada hari pertama Piala Dunia 2026.

Dari ketiga insiden tersebut, kartu merah untuk Sphephelo Sithole dianggap paling jelas dan tidak menimbulkan perdebatan.

Sementara kartu merah untuk Themba Zwane dan César Montes memunculkan berbagai pendapat karena melibatkan unsur interpretasi wasit terhadap tingkat kekerasan dan peluang mencetak gol.

Meski demikian, seluruh keputusan akhirnya tetap dipertahankan setelah melalui pemeriksaan VAR, menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih memainkan peran penting dalam membantu wasit mengambil keputusan di panggung terbesar sepak bola dunia.

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait