Refleksi Hari Lahir Pancasila dari Pidie: “Damai yang Kita Jaga, Kemajuan yang Kita Bangun”
Pidie – Angin pagi berhembus lembut di halaman Kantor Bupati Pidie. Langit cerah seolah turut menyambut semangat baru yang mengalir dari bumi Serambi Mekkah ini.
Dalam suasana yang khidmat dan penuh makna, peringatan Hari Lahir Pancasila kembali menjadi momentum berharga bagi masyarakat Pidie, bukan sekadar seremonial tahunan, tapi sebuah ajakan untuk merenung, bergerak, dan bangkit bersama.
Dengan tema nasional “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya,” Kabupaten Pidie tak sekadar menyelenggarakan upacara, tetapi menghadirkan sebuah refleksi kolektif tentang jati diri bangsa, tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang damai, berkeadaban, dan maju.
Wakil Bupati Alzaizi yang memimpin langsung jalannya upacara menyampaikan pesan tegas dan penuh semangat kepada generasi muda Pidie.
“Hari Lahir Pancasila bukan hanya momen seremonial, tapi refleksi untuk bergerak. Pemuda Pidie harus bangkit! Jangan malas-malasan. Saatnya aktif berkarya, menguasai teknologi, dan menjadi pelopor pembangunan daerah,” tegasnya.
Pesan ini bukan sekadar imbauan, tetapi sebuah panggilan jiwa. Pidie membutuhkan generasi muda yang tak hanya paham sejarah, tetapi juga siap mengukir masa depan. Anak-anak muda yang tumbuh dari tanah damai, namun berani melangkah di era global dengan akhlak mulia dan kecakapan digital.
Di balik semangat tersebut, Pemkab Pidie telah lebih dahulu menanam benih perubahan melalui program “Revitalisasi Pembelajaran Al-Qur’an: Satu Hari Satu Ayat.” Sebuah inisiatif yang menyatukan nilai keislaman dan kemajuan zaman, membangun generasi Qur’ani yang cerdas, santun, dan tahan banting menghadapi arus globalisasi.
Program ini digagas oleh Bupati H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H., dengan dukungan moral dan intelektual dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat Drs. Isa Alima yang dikenal sebagai pemerhati dan mantan anggota dewan pidie serta penggerak spiritual muda.
“Pidie harus bangkit. Kita rawat kedamaian yang telah lama kita jaga, dan kita pacu kemajuan melalui pendidikan, teknologi, dan spiritualitas. Ini adalah cara kita membumikan nilai-nilai Pancasila,” ujar Isa Alima dengan penuh keyakinan.
Menurutnya, pembelajaran satu ayat setiap hari bukan soal jumlah hafalan, tapi tentang pembiasaan, membentuk karakter kuat, membangun fondasi akhlak yang kokoh, dan membimbing pemuda menjadi pribadi yang visioner tanpa tercerabut dari nilai-nilai luhur.
“Program ini bukan hanya tentang hafalan, tapi pembentukan generasi yang beriman, berilmu, dan siap bersaing secara global. Pemuda Pidie tidak boleh tertinggal. Kita harus bangkit dan terus berkembang dengan akhlak dan teknologi,” tambah Isa Alima.
Pidie hari ini tidak sedang berjalan mundur, tapi tengah mengambil ancang-ancang untuk lompatan besar. Damai yang telah lama dirawat pasca konflik masa lalu bukan sekadar simbol, tapi kekuatan. Dari tanah damai inilah akan tumbuh pemuda-pemuda yang membawa harapan, bukan hanya untuk Pidie, tapi untuk Aceh, untuk Indonesia.
Karena itulah, tema lokal “Merawat Damai, Menjemput Kemajuan” begitu relevan. Ia bukan jargon kosong, melainkan arah langkah. Damai adalah warisan yang harus dijaga bersama, dan kemajuan adalah tanggung jawab yang harus dibangun kolektif, dengan semangat, ilmu, kerja keras, dan keimanan.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi lentera yang menerangi jalan menuju Pidie Hebat. Dan lebih jauh lagi, menjadi bagian dari cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.
Maka, wahai pemuda Pidie dan Pemuda Aceh :
Bangkitlah, jangan malas-malasan.
Genggam pena ilmu dan kendali teknologi.
Kuatkan akhlak dan pancangkan cita-cita.
Karena masa depan daerah ini… ada di pundak kalian.(**)







