OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global

Aktivitas pasar keuangan domestik tetap berjalan dinamis di tengah tekanan global, dengan Otoritas Jasa Keuangan memastikan stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga.
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga meski dunia tengah dilanda ketidakpastian global yang meningkat.

Hal ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan yang digelar pada 1 April 2026. OJK menilai tekanan global, terutama akibat eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, telah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Bacaan Lainnya

Ketegangan di kawasan Teluk bahkan berdampak pada terganggunya distribusi energi dunia, termasuk penutupan jalur strategis Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat ruang kebijakan moneter global semakin sempit dan memunculkan kembali ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (high for longer).

Di tengah situasi itu, ekonomi global mengalami tekanan. Amerika Serikat menghadapi inflasi yang masih tinggi serta peningkatan pengangguran, sementara Tiongkok tetap tumbuh namun menyesuaikan target ekonominya akibat tantangan eksternal.

Ekonomi Domestik Tetap Solid

Berbanding terbalik dengan tekanan global, kondisi ekonomi Indonesia justru menunjukkan ketahanan. Inflasi inti tercatat menurun, konsumsi masyarakat tetap kuat, dan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi.

Penjualan ritel tumbuh sekitar 6,89 persen secara tahunan, sementara penjualan kendaraan bermotor juga tetap solid. Dari sisi eksternal, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan serta cadangan devisa yang memadai.

Pasar Modal Bergejolak, Investor Asing Keluar

Di pasar keuangan, dinamika cukup terasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026, terkoreksi signifikan akibat sentimen global.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp23,34 triliun di pasar saham. Sementara di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat seiring naiknya persepsi risiko global.

Meski demikian, jumlah investor pasar modal justru terus meningkat. Sepanjang Maret 2026 saja, terdapat tambahan 1,78 juta investor baru, sehingga total investor mencapai 24,74 juta.

Perbankan Tetap Kuat dan Likuid

Kinerja sektor perbankan masih menunjukkan tren positif. Kredit tumbuh 9,37 persen secara tahunan menjadi Rp8.559 triliun, didorong oleh kredit investasi yang tumbuh paling tinggi.

Likuiditas perbankan tetap memadai dengan rasio yang jauh di atas ambang batas, sementara risiko kredit tetap terkendali dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah.

Permodalan bank juga sangat kuat, tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,83 persen, menjadi bantalan penting dalam menghadapi ketidakpastian global.

Sektor Non-Bank dan Fintech Tumbuh

Di sektor asuransi, total aset industri mencapai Rp1.219,35 triliun dengan pertumbuhan 6,80 persen. Dana pensiun bahkan tumbuh lebih tinggi, mencapai Rp1.700,93 triliun.

Sementara itu, sektor fintech dan aset kripto terus berkembang. Jumlah konsumen aset kripto mencapai 21,07 juta, meskipun nilai transaksi mengalami penurunan mengikuti tren harga global.

Di sisi lain, pinjaman daring (pindar) tumbuh 25,75 persen, menunjukkan tingginya permintaan pembiayaan berbasis digital.

OJK Perketat Pengawasan dan Berantas Ilegal

OJK juga terus memperkuat pengawasan serta perlindungan konsumen. Hingga Maret 2026, sebanyak 951 entitas pinjaman online ilegal telah dihentikan.

Selain itu, OJK bersama Satgas PASTI dan berbagai pihak telah membentuk Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) untuk menangani penipuan keuangan. Total dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp585,4 miliar, dengan Rp169 miliar di antaranya telah dikembalikan.

Langkah Strategis Jaga Stabilitas

Untuk menjaga stabilitas, OJK terus memantau dampak geopolitik global dan mendorong lembaga jasa keuangan memperkuat manajemen risiko.

Sejumlah kebijakan juga diperkuat, termasuk buyback saham tanpa RUPS, trading halt, serta penguatan transparansi pasar modal. OJK juga mendorong inovasi melalui pengembangan produk seperti ETF emas dan program investasi ritel.

Dengan berbagai langkah tersebut, OJK optimistis sektor jasa keuangan Indonesia tetap resilien dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait