Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaAceh Besar – Penurunan angka stunting di Kabupaten Aceh Besar mendapat apresiasi dari berbagai pihak, salah satunya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kecamatan (DPRK) Aceh Besar, Muhsin, S.Si, yang menyambut baik perkembangan positif ini.
Namun, ia juga mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat semua pihak lengah. Anggota dewan mendorong penanganan harus terus dijaga dan ditingkatkan, terutama pihak yang terlihat bupati, camat, keuchik, hingga kader posyandu di gampong-gampong.
“Alhamdulillah, kita ikut senang dengan penurunan angka stunting di Aceh Besar. Tapi ini tidak boleh membuat kita merasa cukup,” ujar Muhsin, Sabtu (2/8/2025).
Muhsin menilai keberhasilan dalam menekan angka stunting selama ini tak lepas dari kerja keras para kader posyandu yang menjadi ujung tombak di lapangan. Karena itu, menurutnya, keberadaan dan kapasitas posyandu perlu diperkuat, terutama dengan dukungan anggaran yang lebih memadai dari pemerintah desa maupun kabupaten.
“Kita tahu selama ini yang jadi garda terdepan penanganan stunting ya posyandu. Mungkin sudah saatnya pemerintah memfokuskan penambahan anggaran langsung ke gampong-gampong, khusus untuk mendukung aktivitas posyandu,” katanya.
Ia mengakui belum memiliki data rinci tentang jumlah anggaran stunting yang dikucurkan selama ini, baik dari Dana Desa maupun dari Dinas Kesehatan. Namun, menurut pengalamannya di lapangan, pengalokasian anggaran untuk stunting masih bergantung pada kondisi keuangan masing-masing desa.
“Desa yang angka stuntingnya tinggi pasti lebih serius menangani. Tapi kita dorong agar tidak hanya tergantung pada itu. Harus ada kebijakan anggaran yang lebih kuat dan terencana dari level kabupaten,” ucap Muhsin.
Lebih lanjut, Muhsin menyambut baik hadirnya program nasional berupa Makanan Bergizi Gratis dari Presiden yang mulai digulirkan pada 2025. Ia berharap program ini bisa menjadi stimulus tambahan bagi Aceh Besar untuk menekan angka stunting hingga ke titik terendah.
“Program presiden ini harus disambut serius. Jangan hanya karena angka stunting sudah turun lalu kita abai. Semua program yang sudah ada harus tetap dilanjutkan,” tegasnya.
Muhsin menyatakan bahwa desa-desa di wilayah Aceh Besar saat ini pada umumnya telah memiliki data yang cukup jelas dan terperinci mengenai angka prevalensi stunting di masing-masing gampong. Data tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah desa dalam merancang dan menentukan langkah-langkah penanganan yang lebih tepat sasaran.
Ia menyampaikan bahwa desa-desa dengan tingkat stunting yang masih tinggi biasanya sudah mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak, baik melalui pendampingan program maupun pengalokasian anggaran khusus dari dana desa.
Penanganannya pun cenderung lebih intensif dibanding desa-desa dengan angka stunting rendah. Hal ini mencerminkan bahwa kesadaran dan tanggung jawab di tingkat lokal sudah mulai tumbuh dengan baik.
“Kita ingin anak-anak kita tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas, serta mampu bersaing di masa depan. Semua itu hanya bisa dicapai jika intervensi dilakukan sejak dini, secara konsisten, dan terus-menerus,” ujarnya dengan tegas.
Dengan demikian, ia berharap agar seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga ke tingkat gampong, terus bekerja sama dalam upaya penanganan stunting yang lebih terstruktur, sistematis, dan menyentuh akar permasalahan.
Muhsin juga menyampaikan rencananya untuk menggandeng Dinas Kesehatan guna melakukan dialog mendalam terkait efektivitas program dan kendala di lapangan.
“Sejauh ini saya lihat pelaksanaannya berjalan lancar. Semua pihak kelihatan kompak dan serius,” katanya.
Berdasarkan hasil Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), terdapat tren penurunan dari September 2024 pravelensi stunting di Kabupaten ini tercatat sebesar 16,7 persen. Angka ini terus bertahan hingga April 2025.
Kasus stunting atau gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Aceh Besar. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Nelly Ulfiati, bahwa pencegahan stunting harus dilakukan sejak masa remaja, bahkan sebelum seorang perempuan hamil. Pasalnya, gizi yang kurang sejak masa remaja bisa berdampak saat perempuan tersebut hamil kelak.
“Dari masa calon ibu itu, harus sehat. Jangan sampai kekurangan mikronutrien. Karena ketika nanti hamil, kalau ibunya kurang gizi, misalnya anemia, itu bisa berdampak pada kehamilannya dan berisiko stunting,” kata Nelly Ulfiati.
Menurutnya, stunting merupakan kondisi kekurangan gizi mikro dalam jangka waktu yang lama. Ada banyak faktor yang menyebabkan stunting ini. Misalnya Kebiasaan makan yang tidak seimbang, jajanan yang tidak sehat, serta lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko infeksi pada anak. Ini menghambat penyerapan gizi.
Karena itu, salah satu upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan adalah memberikan tablet tambah darah bagi remaja putri agar terhindar dari anemia. Dengan begitu, ketika mereka kelak menjadi calon ibu, kondisi fisiknya sudah sehat, kadar hemoglobinnya baik, dan dapat melahirkan bayi yang sehat.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






