Melalui pendekatan mixed methods, penelitian ini dirancang untuk menghasilkan model intervensi psikososial berbasis komunitas yang sesuai dengan karakteristik sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat Aceh.
Widget Artikel Samping
Ketua Tim Peneliti Dr. Sumarti Endah, PMM menyampaikan, penelitian ini merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat melalui pendekatan ilmiah yang berbasis bukti (evidence-based). Jumlah responden yang besar diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi kesehatan mental anak pascabencana serta berbagai faktor yang mempengaruhinya.
“Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam penguatan layanan kesehatan mental anak pascabencana, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan program promotif dan preventif yang berkelanjutan,” ucapnya, Selasa 4 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan hibah penelitian skema Penelitian Kerjasama Perguruan Tinggi (PKPT) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Mengusung tagline SAMUDRA (Support for Adaptive Mental Health using Disaster Recovery Approach), penelitian ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) antara USK dan PKKHY.
Dekan Fakultas Keperawatan Prof. Dr. Teuku Tahlil, S.Kp., M.S selaku Anggota Tim Riset ini mengatakan, pemulihan kesehatan mental anak tidak bisa dilakukan hanya melalui layanan klinis, tetapi harus melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas sebagai sistem pendukung utama anak pascabencana.
Sebab dirinya menilai, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis jangka panjang setelah bencana. Karena itu, pendekatan pemulihan harus hadir sedekat mungkin dengan kehidupan mereka sehari-hari.
“Melalui penelitian ini, kami ingin membangun model intervensi yang tidak hanya ilmiah dan terukur, tetapi juga mudah diterapkan oleh masyarakat, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Prof. Tahlil menambahkan, Aceh memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai bencana, sehingga pengembangan model pemulihan kesehatan mental berbasis komunitas menjadi sangat penting untuk memperkuat ketahanan psikososial masyarakat di masa depan.
“Karena itu, kami berharap hasil riset ini tidak berhenti sebagai publikasi akademik semata, tetapi menjadi panduan nyata dalam penanganan kesehatan mental anak pascabencana di Aceh dan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia,” katanya.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News