Program ini dirancang untuk menjawab tingginya ketergantungan peternak lokal terhadap pakan pabrikan yang berdampak langsung pada membengkaknya biaya produksi. Melalui teknologi tepat guna, masyarakat didorong mengolah potensi limbah organik lokal yang selama ini belum optimal menjadi bentuk pur atau pelet.
Widget Artikel Samping
Ketua tim pelaksana, Mujiburrahmad, S.P., M.Si. dari Program Studi Agribisnis USK, mengatakan bahwa pendekatan yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada pengurangan biaya pakan, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya lokal dan pengurangan limbah organik.
“Program ini diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pakan, tetapi memiliki kemampuan untuk memproduksi sebagian kebutuhan pakannya sendiri dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Untuk mendukung proses produksi, tim USK menghadirkan satu paket teknologi tepat guna yang terdiri atas mesin penggiling, mesin pencacah, mixer, dan mesin pelet. Selain itu, masyarakat juga mendapat pelatihan intensif terkait teknik pengolahan hingga dasar-dasar formulasi nutrisi ternak.
Dr. Allaily, S.Pt., M.Si. dari Program Studi Peternakan menambahkan, pemanfaatan pakan alternatif berkualitas ini ditargetkan mampu mendongkrak produktivitas ternak hingga minimal 20 persen, sekaligus menekan limbah organik di lingkungan mitra hingga 50 persen.
Sementara itu, Dr. Muhammad Idkham, S.TP., M.Si. dari Program Studi Teknik Pertanian mengawal aspek dinamika mesin dan penerapan peralatan agar proses produksi berjalan efisien dan berkelanjutan.
“Melalui kolaborasi lintas bidang ini, USK berharap Gampong Reudeup mampu mengembangkan model pemanfaatan limbah berbasis ekonomi sirkular, menekan biaya produksi peternakan, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat desa,” pungkasnya.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News