Aceh Tengah – Potret memilukan kembali terjadi di dunia pendidikan. Puluhan siswa SD Negeri 10 Linge harus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap hari demi menuntut ilmu setelah jembatan apung yang menjadi akses utama menuju sekolah putus diterjang banjir.
Peristiwa yang terjadi di kawasan Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, itu menyisakan kisah haru sekaligus keprihatinan mendalam. Sejak jembatan putus akibat banjir yang melanda pada Senin, 20 April lalu, para siswa tidak lagi memiliki jalur aman untuk menuju sekolah.
Sebagai jalan keluar sementara, warga memasang seutas tali yang dibentangkan melintasi sungai. Dengan berpegangan pada tali tersebut, anak-anak sekolah harus menyeberangi sungai yang arusnya masih cukup deras. Mereka berjalan perlahan, satu per satu, sambil menjaga keseimbangan agar tidak hanyut terbawa arus.
Pemandangan tersebut menjadi perhatian banyak warga. Tidak sedikit yang merasa cemas melihat anak-anak usia sekolah dasar harus menghadapi risiko sebesar itu hanya untuk mendapatkan hak mereka atas pendidikan.
Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika seorang ibu terlihat menahan tangis saat menyaksikan anaknya menyeberangi sungai. Dengan wajah penuh kecemasan, ia hanya bisa berdoa agar buah hatinya selamat sampai ke seberang.
Meski dihantui rasa takut, sang ibu tetap mengizinkan anaknya berangkat ke sekolah. Alasannya sederhana namun menyayat hati, karena hari itu anaknya harus mengikuti Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang sangat penting bagi proses pendidikannya.
Menurut keterangan warga, pemandangan serupa terjadi hampir setiap hari sejak jembatan apung tersebut putus. Orang tua hanya bisa mengantar hingga tepi sungai, lalu menyaksikan dengan perasaan waswas ketika anak-anak mereka bergelantungan pada tali demi mencapai sekolah.
Kondisi ini memperlihatkan masih adanya persoalan infrastruktur dasar yang belum tertangani secara maksimal di sejumlah daerah terpencil di Aceh. Akses jalan dan jembatan yang seharusnya menjadi penunjang utama aktivitas masyarakat justru menjadi hambatan yang mengancam keselamatan warga, khususnya anak-anak.
Peristiwa ini pun memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat di media sosial. Banyak yang mempertanyakan prioritas pembangunan, dengan membandingkan pentingnya penyediaan infrastruktur dasar seperti jembatan yang layak dengan berbagai program pemerintah lainnya.
Bagi masyarakat setempat, pembangunan jembatan permanen bukan sekadar proyek fisik, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan warga dan keberlangsungan pendidikan anak-anak. Mereka berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera turun tangan agar para siswa tidak lagi mempertaruhkan nyawa hanya untuk sampai ke ruang kelas.
Pendidikan merupakan hak setiap anak Indonesia. Namun di pelosok negeri, hak tersebut masih harus diperjuangkan dengan keberanian yang luar biasa. Kisah siswa-siswi SD Negeri 10 Linge menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan agar tidak ada lagi anak-anak yang mempertaruhkan nyawa demi menggapai cita-cita.(**)








