USK Perkuat Kolaborasi, Dorong Hilirisasi Nilam Aceh dan Pengembangan SDM

Rektor USK Prof. Mirza Tabrani bersama jajaran pimpinan USK, UINSU, Pemerintah Kota Banda Aceh dan Koperasi Hikmah usai penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Balai Senat USK, Banda Aceh, Jumat (14/8/2026).
Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

BANDA ACEH — Universitas Syiah Kuala (USK) memperkuat jejaring kolaborasi strategis dengan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi berbasis potensi daerah.

Penguatan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara USK dengan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Koperasi Produsen Himpunan Keluarga Makmurkan Aceh (Koperasi Hikmah), yang berlangsung di Balai Senat USK, Banda Aceh, Jumat (14/8/2026).

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

Kerja sama ini tidak hanya diarahkan pada penguatan hubungan kelembagaan, tetapi juga diharapkan melahirkan berbagai program konkret yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., menegaskan bahwa setiap kerja sama yang dibangun perguruan tinggi harus mampu diterjemahkan dalam bentuk program nyata. Menurutnya, MoU tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif, tetapi harus menjadi pintu masuk bagi lahirnya berbagai kegiatan yang memiliki keluaran dan dampak terukur.

“Kita perlu bergerak dari MoU menuju implementasi, dari program menuju output dan impact,” ujar Prof. Mirza.

USK-UINSU Dorong Kolaborasi Akademik

Dalam kerja sama dengan UINSU, USK melihat adanya peluang besar untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kapasitas akademik.

Prof. Mirza mengatakan, USK dan UINSU memiliki sejumlah kesamaan, baik dari sisi sejarah, karakter masyarakat maupun tantangan pembangunan yang dihadapi. Kesamaan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun kerja sama yang lebih produktif.

Karena itu, kerja sama kedua perguruan tinggi akan diarahkan pada sejumlah program konkret, mulai dari penelitian dan publikasi bersama, pengembangan kapasitas dosen dan mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, hingga pertukaran akademik.

“USK dan UINSU memiliki banyak kesamaan, baik dari sisi sejarah, karakter masyarakat maupun tantangan pembangunan. Karena itu, kita ingin segera menerjemahkannya menjadi program konkret, seperti penelitian dan publikasi bersama, pengembangan kapasitas dosen dan mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, serta pertukaran akademik,” kata Prof. Mirza.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UINSU, Prof. Muzakkir, mengatakan kunjungan ke USK menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan sekaligus melakukan studi banding dalam pengembangan perguruan tinggi.

Menurutnya, UINSU yang kini memasuki usia hampir 53 tahun tengah mempersiapkan rencana pembukaan Fakultas Kedokteran. Dalam proses tersebut, USK dinilai menjadi salah satu perguruan tinggi yang relevan untuk menjadi tempat belajar dan bertukar pengalaman.

“Kami datang ke Banda Aceh dan USK dalam rangka studi banding. UINSU berencana membuka Fakultas Kedokteran, sehingga kami ingin melihat dan belajar dari USK. Selain itu, kami juga memiliki Fakultas Pendidikan yang nantinya dapat berkolaborasi, termasuk dengan program S3 Pendidikan,” ujarnya.

Prof. Muzakkir menambahkan, kerja sama tersebut selanjutnya akan diperkuat melalui kerja sama teknis antarsatuan kerja di kedua perguruan tinggi, termasuk penyusunan Memorandum of Agreement (MoA).

Banda Aceh Dorong Ekosistem UMKM dan Industri Parfum

Selain dengan UINSU, USK juga memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh. Kolaborasi tersebut diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya pengembangan UMKM muda dan peningkatan kapasitas masyarakat pada sektor-sektor yang memiliki potensi ekonomi.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pengembangan akademi parfum sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem industri parfum berbasis potensi lokal.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, S.E., menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah harus mampu melahirkan aksi nyata yang berdampak terhadap perekonomian masyarakat.

Menurut Illiza, salah satu potensi Aceh yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah nilam. Komoditas tersebut memiliki reputasi di pasar dunia dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang dapat dikembangkan lebih jauh melalui inovasi dan hilirisasi.

“Kita tidak boleh berhenti di bahan baku saja, tetapi harus mulai mengambil bagian yang lebih besar. Bagaimana kita membangun kapasitas dan menerapkan aksi nyata di Banda Aceh, termasuk di bidang kosmetik,” ujar Illiza.

Ia menyebutkan, Pemerintah Kota Banda Aceh telah menyiapkan laboratorium kelas A yang diharapkan dapat mendukung pengembangan industri berbasis kosmetik dan parfum.

Langkah tersebut dinilai sejalan dengan gagasan untuk menjadikan Banda Aceh sebagai salah satu pusat pengembangan industri parfum yang memanfaatkan kekuatan minyak nilam Aceh.

Dengan dukungan riset perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha dan masyarakat, pengembangan nilam diharapkan tidak lagi berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

USK dan Koperasi Hikmah Kembangkan Nilam Aceh di Lamno

Sementara itu, kerja sama USK dengan Koperasi Hikmah diarahkan pada pengembangan komoditas nilam Aceh melalui konsep hilirisasi di kawasan Lamno, Kabupaten Aceh Jaya.

Kolaborasi tersebut menggabungkan kekuatan masing-masing pihak. USK memiliki kapasitas dalam riset, teknologi dan pengembangan nilam melalui Atsiri Research Center (ARC), sementara Koperasi Hikmah berperan dalam investasi, permodalan, operasional hingga membuka akses pasar.

Pengembangan yang dirancang tidak hanya menyentuh sektor hulu, tetapi mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari budidaya, penyulingan, hilirisasi dan manufaktur hingga pemasaran produk.

Dengan pola tersebut, nilam Aceh diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih besar bagi masyarakat dan petani.

Ketua Koperasi Produsen Himpunan Keluarga Makmurkan Aceh, Dr. Ir. Surya Darma, MBA, mengatakan koperasi tersebut dibentuk sebagai wadah untuk mendorong pemanfaatan sumber daya Aceh sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Ia menilai minyak nilam Aceh memiliki karakteristik tersendiri dan telah dikenal di pasar internasional. Potensi tersebut perlu dikembangkan secara serius melalui inovasi, hilirisasi dan penguatan kerja sama antarpihak.

“Nilam Aceh sudah dikenal dunia dan memiliki karakter yang berbeda dengan nilam lainnya. Ini perlu kita dorong dan lanjutkan. Mudah-mudahan kerja sama ini dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari upaya memakmurkan masyarakat Aceh,” kata Surya Darma.

Dari Potensi Lokal Menuju Produk Bernilai Tinggi

Kolaborasi antara USK, UINSU, Pemko Banda Aceh dan Koperasi Hikmah menunjukkan semakin kuatnya dorongan untuk menghubungkan kapasitas perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan dan potensi ekonomi masyarakat.

Perguruan tinggi tidak hanya ditempatkan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai sumber inovasi, riset dan teknologi yang dapat membantu pemerintah serta dunia usaha menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

Dalam konteks pengembangan nilam, sinergi tersebut menjadi semakin penting karena Aceh memiliki sumber daya dan reputasi yang kuat, sementara tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah dari komoditas tersebut.

Hilirisasi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari proses produksi hingga pemasaran produk jadi.

Jika kolaborasi tersebut dapat diwujudkan secara konsisten, pengembangan nilam berpotensi melahirkan ekosistem ekonomi baru yang melibatkan petani, peneliti, koperasi, pelaku UMKM, pemerintah daerah hingga industri.

Di sisi lain, kerja sama USK dan UINSU juga membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan pendidikan dan penelitian lintas perguruan tinggi. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman, termasuk dalam persiapan pembukaan Fakultas Kedokteran UINSU, diharapkan dapat memperkuat kualitas kelembagaan kedua universitas.

Semangat utama dari rangkaian kerja sama tersebut adalah memastikan bahwa MoU tidak berhenti di atas kertas. Setiap kesepakatan diharapkan segera ditindaklanjuti melalui program, kegiatan, output dan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.

Dengan menghubungkan pendidikan, riset, pemerintah, koperasi dan dunia usaha, USK bersama para mitranya berupaya membangun model kolaborasi yang tidak hanya memperkuat kelembagaan, tetapi juga mampu menggerakkan potensi ekonomi Aceh dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(**)

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait