Insiden tersebut kembali mengungkap persoalan lama yang terus dikeluhkan masyarakat: kondisi kuala Lampuyang yang semakin dangkal. Kedangkalan ini tidak hanya menyulitkan kapal ambulans, tetapi juga menghambat aktivitas nelayan serta kapal penumpang yang keluar masuk Pulo Aceh.
Widget Artikel Samping
Masyarakat menilai situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, khususnya Bupati Aceh Besar, dapat segera mengalokasikan anggaran untuk pengerokan dan pendalaman kuala Lampuyang. Selain berkaitan dengan akses layanan kesehatan yang cepat dan aman, pengerokan tersebut diyakini sangat berpengaruh terhadap perekonomian lokal.
Menurut warga, jika kedalaman kuala memadai, kapal nelayan maupun boet dari luar Pulo Aceh akan lebih mudah berlabuh. Masuknya kapal-kapal tersebut akan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari warung, kios, hingga berbagai usaha kecil lainnya.
Usulan pengerokan kuala Lampuyang sebenarnya telah berulang kali disampaikan masyarakat melalui forum Musrenbang kecamatan. Namun hingga kini, aspirasi tersebut belum membuahkan hasil.
“Ini bukan hanya soal kapal kandas. Ini menyangkut nyawa pasien, juga masa depan ekonomi masyarakat,” ujar seorang warga yang ikut membantu proses penyelamatan kapal ambulans.
Melalui unggahan di media sosial dan berbagai kanal informasi, masyarakat kembali menyuarakan harapan agar pemerintah daerah segera bertindak. Mereka mendesak agar pengerokan kuala Lampuyang menjadi prioritas demi keselamatan, mobilitas, dan kesejahteraan warga Pulo Aceh.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News