Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang melanda berbagai wilayah di Indonesia dalam kurun waktu Rabu (1/4) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (2/4) pukul 07.00 WIB. Dari hasil pendataan tersebut, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir menjadi kejadian yang paling dominan dan berdampak signifikan terhadap masyarakat.
Di Provinsi Sulawesi Tengah, banjir menerjang Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, pada Rabu (1/4). Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan pegunungan selama kurang lebih tiga jam. Tingginya curah hujan menyebabkan debit air meningkat drastis hingga meluap ke permukiman warga.
Akibatnya, dua desa yakni Desa Pangkalaseang Baru dan Desa Pangkalaseang terdampak cukup parah. Sebanyak 52 kepala keluarga atau 166 jiwa dilaporkan terdampak, dengan 52 unit rumah terendam air setinggi sekitar 50 sentimeter di beberapa titik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai bergerak cepat melakukan asesmen di lokasi kejadian serta berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk penanganan lanjutan. Sejumlah kebutuhan mendesak pun diidentifikasi, seperti normalisasi sungai, pemasangan bronjong, pembangunan sistem drainase, hingga bantuan logistik berupa sandang dan pangan bagi warga terdampak.
Meski hujan telah berhenti dan genangan air mulai surut, masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Sementara itu, di Provinsi Sulawesi Selatan, banjir juga melanda Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur. Hujan deras yang berlangsung sejak Selasa (31/3) sore hingga malam hari menyebabkan Sungai Kondara meluap, diperparah oleh kondisi pendangkalan sungai.
Dampaknya dirasakan oleh warga Desa Ledu-Ledu, di mana sebanyak 21 kepala keluarga atau 84 jiwa terdampak dan 19 rumah terendam air. BPBD Kabupaten Luwu Timur bersama Tim Reaksi Cepat (TRC), aparat desa, serta Dinas Pemadam Kebakaran langsung turun ke lapangan melakukan kaji cepat dan membantu evakuasi barang-barang milik warga guna meminimalkan kerugian.
Saat ini kondisi banjir di wilayah tersebut berangsur surut dan mulai terkendali. Meski demikian, warga tetap diminta siaga terhadap potensi banjir susulan, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Bencana serupa juga terjadi di Provinsi Jawa Timur. Banjir melanda Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, pada Senin (30/3) sore akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut. Genangan air dengan ketinggian rata-rata 40 sentimeter mengakibatkan 23 kepala keluarga terdampak dan merendam 23 unit rumah.
BPBD Kabupaten Madiun telah melakukan langkah-langkah penanganan berupa monitoring, asesmen, serta pendataan warga terdampak. Kejadian ini berlangsung di tengah status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang masih berlaku di Provinsi Jawa Timur hingga 1 Mei 2026.
Di wilayah lain, bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan, tepatnya di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, pada Rabu (1/4) sore. Kebakaran melanda area semak belukar seluas kurang lebih 2 hektare. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Tim BPBD Kabupaten Barito Kuala bersama relawan dan instansi terkait berhasil memadamkan api sebelum meluas ke area yang lebih besar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kebakaran sempat menimbulkan potensi gangguan terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat sekitar.
BNPB mengingatkan bahwa potensi bencana hidrometeorologi maupun karhutla masih tinggi di sejumlah wilayah Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk terus memantau perkembangan cuaca, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera melaporkan jika terjadi kondisi darurat.
Kesiapsiagaan dan langkah mitigasi sejak dini dinilai menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak bencana, sehingga keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.(**)






