Daya Desa Suak Timah: Festival Nipah sebagai Media Pertemuan

Pasar Budaya mempertemukan kuliner, kriya, serta produk nipah dengan pengunjung, menjadi bagian rangkaian Festival Nipah. (Foto Istimewa)
Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

ACEH INDEPENDENT,  MEULABOH – Festival Nipah menjadi media tempat bertemunya berbagai pihak. Baik warga, pelaku usaha dan pelaku budaya. Sebagai sarana pertemuan, berfungsi sebagai media komunikasi, ekspresi, promosi dan konsolidasi sosial. Bahkan pertukaran gagasan dan ruang ekonomi.

Demikian ungkap Daya Desa Suak Timah, Mukhsin, dalam rilis yang disampaikan kepada Aceh Independent.

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

Daya Desa adalah Pendamping Kebudayaan Desa yang bertugas sebagai perpanjangan tangan dari Kemendikbudristek untuk mendampingi masyarakat dalam proses Pemajuan Kebudayaan Desa.

Dari Festival Nipah, berbagai potensi desa kian berkembang. Diantaranya UMKM Cang Nipah, yang kembangkan dodol, manisan, karamel, dan sirup nipah. Kemudian UMKM Ummu Muttaqin juga memperluas produksi jamu herbal.

Sementara pengrajin reungkan, anyaman dari lidi nipah, mulai memperoleh pesanan setelah festival. Usaha-usaha kecil yang ada semakin berkembang melalui festival.

Suak Timah juga kembangkan sektor pariwisata. Kini desa ini punya destinasi wisata, dengan Paket Wisata Jelajah Rawa Nipah. Menawarkan pengalaman  melihat bentang alam sekaligus mengenali pengetahuan, sejarah, dan hubungan warga dengan lingkungannya kepada wisatawan.

Selain itu terdapat  fasilitas cafetaria dan suvenir jus buah nipah dan homestay. Paket wisata ini kian hari makin diminati.

Suak Timah  tercatat dalam Jadesta Kementerian Pariwisata sebagai Desa Wisata kategori Rintisan. Desa ini sendiri telah ditetapkan salah satu desa penerima Apresiasi Desa Budaya 2025 Kementerian Kebudayaan RI.

Tahun ini, Festival Nipah semakin semarak digelar. Pra festival; 7 hingga 12 September 2026 masyarakat mengikuti workshop kuliner dan kriya nipah, lokakarya wisata, inovasi kasab, serta manajemen UMKM.

Sementara, puncak perhelatan Festival Nipah akan berlangsung pada 14 hingga 15 September 2026 dengan berbagai rangkaian pameran produk lokal, pertunjukan seni, dan pelestarian tradisi berbasis ekosistem rawa nipah.

Disbudpar Aceh juga mendorong kolaborasi dengan Pemkab Aceh Barat, pemerintah gampong, komunitas, pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Arahnya mencakup peningkatan kapasitas pengelola destinasi, pengembangan atraksi, kualitas produk, pengemasan budaya sebagai daya tarik wisata, serta promosi dan pemasaran.

Mukhsin, sebagai Daya Desa Suak Timah mengungkapkan, melalui festival ini diharapkan melalui pengembangan ekonomi budaya akan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Termasuk menjaga kebudayaan lingkungan yang telah menjadi bagian kehidupan warga.

Ia menyebutkan festival ini nantinya bukan titik akhir. “Festival bukan tujuan utama. Festival ini adalah media pertemuan. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah festival selesai masyarakat tetap bergerak. Ada yang membuat produk, ada yang mendapatkan pesanan, ada yang mengembangkan usaha, ada yang mengelola wisata,” demikian Mukhsin.

Sebagaimana telah diketahui, tema Festival Nipah 2026 yang kembali digelar di Suak Timah Aceh Barat adalah “Nipah Meubudaya, Masyarakat Seujahtera”. Pada 28-30 Oktober 2025 lalu, acara perayaan ini sukses digelar. ()

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait