“Diam itu emas,” sayup-sayup sudah tak asing terdengar dalam kehidupan sehari-hari umat manusia dimuka bumi ini, peribahasa yang mengajarkan kita berbicara seirit mungkin hanya saat diperlukan serta menghindari percakapan yang tidak penting.
Namun, dalam dunia kesehatan diam itu bukan emas, terutama dalam kolaborasi antar profesi, diam bukanlah pilihan yang bijak tapi malapetaka. Terkadang, diam justru bisa menjadi racun yang merusak sinergi tim kesehatan yang terdiri dari berbagai profesi, seperti dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya.
Ketika memilih diam maka pilihannya menghindari komunikasi terbuka, dampaknya sangat besar untuk seluruh anggota tim kesehatan. Kesalahan diagnosis, miskomunikasi dalam perawatan pasien, pengambilan keputusan yang salah, dan bahkan risiko keselamatan pasien yang seharusnya bisa dihindari bisa terjadi akibat kurangnya komunikasi yang jelas dan efektif.
*Miskomunikasi dalam Kolaborasi Tim*
Ketidakpahaman terhadap peran dan tanggungjawab masing-masing profesi biasanya diawali oleh komunikasi yang buruk antar profesi kesehatan seperti enggan untuk berbicara hingga memberikan masukan. Hirarki yang ada antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya sering kali menjadi penghalang untuk mengungkapkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, sementara profesi lain mungkin merasa peran mereka tidak diakui atau tidak cukup dihargai.
Potensi kesalahpahaman dalam merencanakan perawatan pasien akan semakin besar didasari oleh tanpa adanya komunikasi yang terbuka dan jelas. Ini yang akan menyebabkan keputusan yang kurang tepat, menghambat kolaborasi yang efektif, dan memperburuk kualitas perawatan pasien.
Dalam konteks kolaborasi antar profesi kesehatan, komunikasi yang buruk selain merugikan tim, dapat juga mengancam keselamatan pasien. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan bersama memberikan perawatan terbaik bagi pasien maka komunikasi yang efektif antar profesi kesehatan menjadi sangat penting. Meskipun tim terdiri dari tenaga kesehatan yang sangat kompeten, handal dan bisa diandalkan kesalahan bisa tetap terjadi dan mempengaruhi hasil perawatan tanpa terjalinnya komunikasi yang baik.
*Mengapa Miskomunikasi Terjadi?*
Bahasa dan gaya komunikasi yang berbeda sangat mempengaruhi. Misalnya, cara berbicara seorang dokter mungkin sangat teknis dan berbasis pada diagnosis medis, sementara seorang perawat lebih berfokus pada tindakan praktis sehari-hari dalam perawatan pasien.
Begitu pula dengan apoteker yang lebih banyak berbicara tentang obat-obatan dan dosis, atau ahli gizi yang berbicara tentang pola makan dan asupan nutrisi. Perbedaan ini sering kali menimbulkan kebingungan, terutama ketika anggota tim kesehatan berasal dari latar belakang profesional yang berbeda.
Misalnya, seorang perawat mungkin merasa takut untuk memberi masukan mengenai keputusan medis yang diambil oleh dokter, atau seorang ahli gizi mungkin merasa suaranya tidak didengar saat memberikan rekomendasi tentang diet pasien. Ketakutan akan salah paham atau penilaian yang merendahkan bisa menghambat aliran informasi yang sangat dibutuhkan untuk proses pengambilan keputusan yang akurat dalam merawat pasien. Hal ini menjadi lebih kompleks ketika anggota tim, baik yang junior maupun senior, merasa enggan untuk berbicara terbuka.
Ketika komunikasi dalam tim kesehatan terbatas atau terhambat, dampaknya bisa sangat besar dan merugikan seluruh tim, serta tentunya pasien yang menjadi objek utama perawatan. Salah satu konsekuensi paling nyata adalah kesalahan dalam pengambilan keputusan medis, yang sering kali terjadi akibat instruksi yang tidak lengkap atau salah tafsir terhadap informasi yang diberikan oleh profesi lain.
Hal ini semakin parah jika informasi yang salah diterima dan diteruskan tanpa klarifikasi lebih lanjut. Dalam konteks kerja tim kesehatan, ketidaksepahaman ini bisa menyebabkan terhambatnya tujuan bersama dalam memberikan perawatan yang terbaik bagi pasien hingga memperlambat kemajuan dalam perawatan dan bahkan meningkatkan risiko kegagalan dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Masalah komunikasi yang sepele ini seharusnya tidak dianggap remeh, karena bisa berujung pada keputusan medis yang buruk, konflik antar profesi, dan bahkan potensi kerugian besar bagi keselamatan pasien. Oleh karena itu, membangun komunikasi yang terbuka dan efektif antar profesi kesehatan sangat penting untuk memastikan perawatan pasien yang berkualitas dan menghindari kerugian yang tidak terduga, baik dari segi waktu, tenaga, maupun keselamatan.
*Dampak Miskomunikasi dalam Tim*
Apa yang terjadi ketika komunikasi dalam tim kesehatan gagal? Salah satu dampak paling nyata adalah penurunan kinerja tim. Tanpa komunikasi yang jelas dan efektif, tujuan bersama yang seharusnya menjadi landasan setiap tindakan medis bisa menjadi kabur, membuat anggota tim Kesehatan bingung mengenai arah yang harus ditempuh dalam perawatan pasien.
Kolaborasi yang seharusnya produktif menjadi terhambat, dengan setiap individu atau profesi kesehatan mungkin hanya fokus pada tugas mereka sendiri tanpa memperhatikan gambaran besar yang mencakup perawatan holistik pasien. Keputusan yang diambil dalam situasi seperti ini pun cenderung kurang tepat dan berisiko tinggi, yang bisa mengarah pada kegagalan perawatan atau kerugian signifikan, termasuk kemunduran dalam kondisi pasien.
Selain itu, kesalahan dalam memahami informasi atau instruksi yang tidak jelas dapat menciptakan konflik dalam tim. Tanpa klarifikasi yang cukup, anggota tim kesehatan mungkin bekerja dengan asumsi yang berbeda mengenai diagnosa, prosedur, atau pengobatan yang harus diterapkan, yang memunculkan ketegangan dan perbedaan pendapat.
Ketidakjelasan mengenai peran masing-masing anggota tim juga bisa menjadi masalah yang tak terhindarkan, di mana setiap orang mungkin merasa tidak dihargai atau bahkan bingung tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dalam rangka memberikan perawatan yang optimal. Semuanya bermuara pada satu masalah utama yang lebih besar: keselamatan pasien.
Ketika komunikasi gagal, bukan hanya kinerja tim yang terancam, tetapi juga keselamatan pasien, integritas, dan keamanan tim kesehatan serta organisasi dapat berada dalam bahaya. Kejelasan dan koordinasi yang tepat antar profesi menjadi kunci untuk memastikan perawatan yang aman, efektif, dan berkualitas bagi pasien.
*Solusi untuk Membangun Komunikasi yang Efektif*
Lalu, bagaimana caranya untuk mencegah diam yang berbahaya? Kuncinya ada pada tiga hal utama: komunikasi terbuka, mendengar aktif, dan klarifikasi yang rutin.
Komunikasi terbuka adalah dasar yang harus dibangun dalam setiap tim. Anggota tim harus merasa aman untuk berbicara, berbagi ide, dan memberikan umpan balik tanpa takut dihukum atau diabaikan. Ini membutuhkan keberanian untuk mengklarifikasi informasi yang tidak jelas.
Mendengar aktif juga penting. Mendengar bukan hanya sekadar mendengar, tetapi juga memahami maksud yang ingin disampaikan oleh orang lain. Klarifikasi menjadi hal yang tak terhindarkan jika ada yang tidak dimengerti, maka segera tanyakan atau jangan biarkan ketidakjelasan terus berlanjut.
Pada akhirnya, standar komunikasi yang jelas dan dapat diikuti oleh seluruh anggota tim menjadi kunci sukses dalam menghindari komunikasi buruk. Mengapa? Karena dalam dunia yang penuh dengan dinamika, komunikasi yang efektif adalah pelindung utama yang memastikan tim bisa bergerak maju tanpa hambatan.
Dalam setiap kolaborasi, maka diam itu bukan emas, ingatlah diam bisa berbahaya. Jangan biarkan celah komunikasi menghancurkan potensi hebat yang ada dalam tim Anda.
Ditulis oleh:
_*Vera Fadlia*_
_Mahasiswa Magister Keperawatan_
_Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala_






