ACEH – Di tengah berbagai dinamika politik dan ekonomi yang dihadapi Aceh hari ini, satu hal yang tidak boleh dianggap sepele adalah persoalan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Program ini bukan sekadar kebijakan kesehatan, melainkan simbol keberpihakan politik kepada rakyat kecil. Karena itu, polemik terhadap Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang JKA bukan hanya persoalan administrasi pemerintahan, tetapi juga menyangkut marwah politik Partai Aceh di mata masyarakat.
Sejak tahun 2010, JKA telah menjadi salah satu program yang paling melekat dengan perjuangan politik Partai Aceh. Di tengah keterbatasan pelayanan kesehatan saat itu, JKA hadir sebagai jawaban atas keresahan masyarakat kecil yang kesulitan mendapatkan akses pengobatan. Program ini bukan hanya membantu rakyat berobat, tetapi juga membangun keyakinan bahwa pemerintah Aceh mampu menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat bawah.
Selama bertahun-tahun, Partai Aceh membangun legitimasi politik melalui narasi perjuangan rakyat. Salah satu bentuk konkret yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah hadirnya JKA. Program ini membuat rakyat merasa pemerintah benar-benar hadir ketika mereka sakit, ketika biaya rumah sakit terasa mustahil dijangkau, dan ketika harapan hidup bergantung pada akses pelayanan kesehatan.
Karena itulah, JKA bukan hanya program teknokratis. Ia telah berubah menjadi identitas sosial dan emosional masyarakat Aceh. Menyentuh atau melemahkannya tanpa solusi yang jelas sama artinya dengan menyentuh kepercayaan publik itu sendiri.
Masyarakat mungkin bisa memaafkan janji politik yang terlambat. Tetapi rakyat jarang lupa ketika hak dasar mereka perlahan dipersulit. Ketika masyarakat mulai merasa ditinggalkan dalam urusan kesehatan, maka kekecewaan itu akan berubah menjadi penilaian politik. Dan sejarah politik selalu menunjukkan bahwa partai yang gagal menjaga kedekatan dengan kebutuhan rakyat akan perlahan kehilangan tempat di hati masyarakat.
Ada kesan yang mulai tumbuh di tengah publik bahwa elite terlalu sibuk mengurus konflik internal, pembagian kekuasaan, dan agenda politik jangka pendek, sementara persoalan mendasar rakyat justru kehilangan perhatian. Jika persepsi ini terus berkembang, maka Partai Aceh menghadapi risiko besar: kehilangan identitas perjuangannya sendiri.
Sebuah partai lokal lahir bukan hanya untuk memenangkan pemilu, tetapi untuk menjaga harapan masyarakat yang pernah mempercayainya. Ketika rakyat melihat program yang dulu menjadi kebanggaan justru melemah di bawah pemerintahan yang didukung sendiri, maka publik akan mulai bertanya: masihkah perjuangan itu hidup, atau hanya tinggal slogan saat kampanye?
Klimaks dari persoalan ini bisa terjadi ketika masyarakat kecil yang secara ekonomi sebenarnya tidak mampu, justru tidak lagi mendapatkan jaminan biaya pengobatan hanya karena masuk dalam kategori desil tertentu, akibat penerapan kebijakan dalam Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026. Di lapangan, penentuan desil masih menyisakan banyak persoalan dan kekeliruan. Tidak sedikit masyarakat yang kehidupannya pas-pasan, penghasilannya tidak tetap, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan harian, tetapi tercatat seolah-olah berada dalam kategori mampu.
Inilah yang berpotensi memicu ledakan kekecewaan sosial. Sebab rakyat tidak akan melihat penjelasan teknis soal data dan klasifikasi. Yang mereka rasakan adalah kenyataan ketika keluarga sakit tetapi biaya pengobatan tidak lagi ditanggung. Dalam kondisi seperti itu, kemarahan publik tidak akan diarahkan kepada sistem statistik, melainkan kepada pemerintah dan kekuatan politik yang dianggap bertanggung jawab.
Pembatalan atau revisi terhadap sebuah kebijakan sebenarnya bukan sesuatu yang tabu dalam sistem pemerintahan. Di level nasional, publik pernah melihat bagaimana Prof. Sufmi Dasco Ahmad mengambil langkah strategis menunda untuk mengevaluasi rencana pembelian mobil pick up Agrinas setelah muncul perhatian dan kritik dari masyarakat. Artinya, perubahan kebijakan bukanlah bentuk kelemahan pemerintah, melainkan bagian dari kemampuan membaca situasi dan mendengar suara rakyat.
Dalam konteks Aceh hari ini, langkah membatalkan atau mengevaluasi kembali Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 justru dapat menjadi momentum politik yang penting. Bagi Mualem sebagai pemegang mandat dan kekuasaan pemerintahan saat ini, keputusan tersebut bukan hanya akan menjadi vitamin bagi masyarakat Aceh di tengah kondisi ekonomi yang sedang lesu, tetapi juga menjadi “dopamin sosial” yang menghilangkan kecemasan rakyat terhadap biaya pengobatan.
Sebab di tengah tekanan ekonomi, ketakutan terbesar masyarakat kecil bukan hanya soal pendapatan yang berkurang, tetapi ketika ada anggota keluarga yang sakit sementara biaya rumah sakit terasa tidak sanggup dijangkau. Dalam situasi seperti itu, kehadiran negara melalui JKA menjadi sumber rasa aman yang sangat penting bagi rakyat bawah.
Persoalan ini menjadi sangat sensitif karena menyentuh langsung lapisan masyarakat bawah yang selama ini menjadi basis emosional dan politik Partai Aceh. Ketika rakyat mulai merasa dipersulit untuk mendapatkan layanan kesehatan, maka narasi keberpihakan kepada rakyat perlahan akan kehilangan makna di mata masyarakat.
Secara politik, dampaknya bisa sangat serius. Basis akar rumput yang selama ini loyal bukan mustahil berubah menjadi apatis. Generasi muda Aceh yang mulai kritis juga akan melihat apakah kekuasaan benar-benar digunakan untuk melindungi rakyat, atau sekadar mempertahankan pengaruh elite. Dalam politik modern, kehilangan kepercayaan publik jauh lebih berbahaya daripada kehilangan jabatan sementara.
Partai Aceh seharusnya memahami bahwa mempertahankan JKA bukan hanya soal kebijakan kesehatan, tetapi soal menjaga hubungan emosional dengan rakyat. Sebab masyarakat bawah tidak mengingat siapa yang paling sering tampil di baliho. Mereka mengingat siapa yang membantu mereka ketika sakit, ketika keluarga mereka membutuhkan rumah sakit, dan ketika hidup sedang sulit.
Jika polemik Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 terus dibiarkan tanpa arah yang jelas, maka kerusakan politiknya bisa berlangsung panjang. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti rakyat akan melihat bahwa yang perlahan melemah bukan hanya program kesehatan, tetapi juga marwah perjuangan Partai Aceh itu sendiri.
Ketika kepercayaan itu hilang, sejarah politik biasanya berjalan dengan sangat kejam. Dan pada akhirnya, rakyat tidak menilai kekuasaan dari seberapa lama ia bertahan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dan bagi banyak masyarakat Aceh, JKA selama ini adalah bukti nyata bahwa politik masih memiliki arti bagi orang kecil. Jika fondasi itu runtuh, maka yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah program kesehatan, melainkan kepercayaan rakyat terhadap arah perjuangan itu sendiri.(**)






