“Merekam Hari Kesembilan Nasib Warga Di Takengon”
ACEHINDEPENDENT.COM, TAKENGON – Hari kesembilan bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah Aceh Tengah, bukan hanya mendera nasib pengungsi. Tetapi juga sejumlah warga di pusat kota dingin itu. Pasalnya, beras sudah semakin langka.
“Kami sudah kelaparan. Mau beli beras pun sudah tidak ada. Warung pun gak ada buka,” ucap Bena, pedagang yang memiliki grosir di kawasan Pasar Inpres Takengon, Rabu, 3 Desember 2025, siang.
Senada dengan Nanta demi untuk memenuhi makan siang keluarganya, ia berjalan kaki keliling ke warung-warung di kawasan pusat kota itu. Berharap apa yang dicari bakal ditemukan.
“Demi makan siang hari ini, sudah cukup. Soalnya keluarga di rumah sudan lapar. Untuk malam, nanti dipikirkan,” kata pria berusia 43 tahun ini.
Bapak satu anak ini harus memikirkan kedua orang tuanya yang telah renta. “Ayah saya berumur 90 tahun. Dan ibu saya 80 tahun, dalam keadaan sakit, aku Nanta.
Beruntung, setelah Nanta letih berjalan dan nyaris menyerah dan segera pulang, salah satu warung kecil memiliki tiga porsi “nasi perang”. Sebungkus 15ribu, pakai telor bulat.
“Lumayan, untuk makan siang keluarga di rumah. Walau istilahnya ini adalah nasi perang, paling tidak untuk menghilangkan lapar,” tutur Nanta, lalu melangkah pulang ke Kampung Tetunyung.
Pantauan acehindependent.com di kawasan Terminal Lama dan Pasar Inpres Takengon, tampak lenggang. Warung yang biasanya melayani pembeli, tampak menutup usahanya.
“Kosong bang. Tidak ada bahan,” kata pemilik warung Sababat Baru.
Kios kecil bahkan grosir dominan hanya memajang makanan ringan dan minuman kemasan. Sebagian kecil masih ada menjual minyak goreng.
Pun demikian, harapan warga dapat memperoleh beras, tampak di Pasar Inpres setempat. Pemandangan itu terlihat dari antrean panjang di beberapa grosir. Meski menunggu yang belum pasti terwujud.
“Tidak apa-apa berdiri di sini. Siapa tahu nanti bisa dapat bagian untuk membeli walau untuk makan sehari,” kata warga yang tak menyebut jati dirinya.
Bahkan, di antara para warga yang sudah letih, rela duduk di aspal beralas dan berpayung kardus bekas. Sekedar menghalau terik matahari.
“Tak apa-apa menunggu. Soalnya dari tadi menahan lapar,” ungkap Edi. “Untuk beli beras saja berat,” imbuhnya.
Sementara, di sejumlah pelosok dataran tinggi Gayo itu, pasca bencana alam, Selasa malam, 25 November 2025 lalu, Pemkab setempat terus berupaya menyalurkan bantuan.
“Kita terus mendata daerah yang terisolir dan menerebos masuk memberikan bantuan. Kita upayakan semampunya,” kata Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, sembari mengaku situasi saat ini masih sulit. []






