ACEH – Sebutan “Pidie Kriet” yang selama ini melekat pada masyarakat Kabupaten Pidie kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat Aceh. Istilah yang kerap diartikan sebagai “pelit” tersebut ternyata menyimpan sejarah panjang yang tidak sepenuhnya dipahami oleh banyak orang, terutama generasi muda di luar Pidie.
Fenomena ini masih dirasakan hingga saat ini. Tidak sedikit warga Pidie yang mengaku kerap mendapat respons serupa ketika menyebut daerah asal mereka. Reaksi spontan seperti “Oh, Pidie terkenal pelit ya?” menunjukkan bahwa stigma tersebut masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun, tanpa disertai penjelasan yang utuh mengenai asal-usulnya.
Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, sebutan “Pidie Kriet” bukanlah cerminan sifat pelit sebagaimana yang dipahami secara umum. Justru sebaliknya, istilah itu berakar dari budaya masyarakat Pidie di masa lampau yang sangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap tamu.
Pada zaman dahulu, masyarakat Pidie dikenal sangat memuliakan tamu. Setiap tamu yang datang akan disambut dengan penuh hormat, bahkan disuguhkan makanan dan minuman terbaik yang mereka miliki. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas sekalipun, masyarakat rela berutang demi memastikan tamu mendapatkan pelayanan yang layak dan istimewa.
Ungkapan yang kemudian memicu kesalahpahaman adalah kalimat “makanan dan minuman kami perkirakan.” Dalam konteks budaya Pidie, kata “perkirakan” dimaksudkan sebagai bentuk kesungguhan dalam menyiapkan hidangan terbaik, dengan perhitungan matang agar tamu dilayani secara maksimal.
Namun, bagi masyarakat dari daerah lain, ungkapan tersebut ditafsirkan secara berbeda. Kata “perkirakan” dianggap sebagai bentuk perhitungan yang kaku, seolah-olah makanan disajikan dengan batasan yang ketat. Dari sinilah muncul persepsi bahwa masyarakat Pidie bersikap pelit.
Kesalahan tafsir inilah yang kemudian berkembang menjadi stigma sosial dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Tanpa adanya klarifikasi atau pemahaman ulang, label “Pidie Kriet” akhirnya melekat kuat dan membentuk opini publik yang kurang tepat.
Di era modern saat ini, muncul kesadaran bahwa stigma tersebut perlu diluruskan. Penyebutan yang tidak berdasar dan terus diulang dapat mengarah pada pencemaran nama baik suatu daerah, serta berpotensi menimbulkan kesalahpahaman antar masyarakat.
Lebih dari itu, pelurusan makna “Pidie Kriet” menjadi penting sebagai bagian dari upaya menjaga nilai-nilai budaya yang sebenarnya positif. Tradisi memuliakan tamu yang dimiliki masyarakat Pidie merupakan warisan luhur yang patut diapresiasi, bukan justru disalahartikan.
Dengan pemahaman yang lebih utuh, diharapkan generasi muda di Aceh dan sekitarnya dapat melihat kembali sejarah istilah tersebut secara objektif. Stigma lama yang lahir dari kesalahpahaman seharusnya tidak lagi menjadi label yang merugikan identitas suatu daerah.
Kini, saatnya narasi lama digantikan dengan pemahaman baru: bahwa “Pidie Kriet” bukan tentang kepelitannya, melainkan tentang betapa tingginya penghormatan masyarakat Pidie terhadap tamu yang datang ke rumah mereka.(**)






