PRSATL USK dan Dinas Peternakan Aceh Sepakat Kembangkan Riset Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Aceh

Banda Aceh. Pusat Riset Sapi Aceh dan Ternak Lokal (PRSATL) Universitas Syiah Kuala (USK) dan Dinas Peternakan Aceh melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (MoA) tentang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Terkait Pengembangan sumber daya genetik ternak lokal Aceh dan Kesehatan Hewan. Foto/Istimewa
Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

ACEH INDEPENDENT, Banda Aceh. Pusat Riset Sapi Aceh dan Ternak Lokal (PRSATL) Universitas Syiah Kuala (USK) dan Dinas Peternakan Aceh melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (MoA) tentang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Terkait Pengembangan sumber daya genetik ternak lokal Aceh dan Kesehatan Hewan.

Perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani oleh Prof. Dr. Ir. Eka Meutia Sari, M.Sc., selaku Ketua PRSATL USK dan drh. Safridhal, selaku Kepala Dinas Peternakan Aceh. Kegiatan berlangsung di Kantor Dinas Peternakan Aceh, serta turut dihadiri dan didampingi oleh Pejabat Fungsional Pengawas Bibit Ternak Dinas Peternakan Aceh.

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

Kerja sama ini mencakup penguatan kegiatan penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan, serta pengabdian kepada masyarakat di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Melalui kolaborasi tersebut, kedua pihak diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan hasil penelitian dan mengembangkannya menjadi inovasi serta program yang aplikatif sesuai dengan kebutuhan pembangunan peternakan di Aceh.

Safridhal menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan pembangunan peternakan yang berbasis ilmu pengetahuan, data, dan inovasi. Dirinya menyambut baik kerja sama dengan PRSATL USK sebagai langkah strategis untuk memperkuat pembangunan peternakan di Aceh.

“Kami berharap hasil penelitian yang dikembangkan tidak hanya berhenti pada tataran akademis, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata di lapangan, sehingga memberikan manfaat bagi petugas peternakan dan para peternak,” ujar Safridhal.

Selanjutnya, Prof. Eka mengatakan kerja sama ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan sumber daya genetik hewan (SDGH) ternak lokal Aceh, khususnya Sapi Aceh, Kerbau Simeulue, Kerbau Gayo, dan Kuda Gayo.

“Pengembangan ternak lokal tersebut memerlukan dukungan penelitian yang berkelanjutan, pengelolaan pembibitan yang terarah, peningkatan mutu genetik, serta penerapan teknologi peternakan yang sesuai dengan karakteristik dan potensi wilayah,” ucapnya.

Dalam konteks tersebut, ungkapnya, peran PRSATL menjadi penting sebagai mitra strategis dalam mendukung penyediaan data ilmiah, kajian teknis, serta rekomendasi kebijakan yang dapat digunakan untuk memperkuat perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan peternakan.

Sementara itu, Dinas Peternakan Aceh memiliki peran dalam mendorong implementasi hasil penelitian melalui program pembinaan, pendampingan teknis, dan penguatan kapasitas petugas serta pelaku usaha peternakan.

“Kita memiliki potensi ternak lokal yang menjadi kekayaan dan identitas Aceh. Potensi ini harus dijaga dan dikembangkan secara terencana agar mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Melalui sinergi antara riset dan pelaksanaan program di lapangan, kita ingin mendorong peningkatan produktivitas ternak, penguatan sistem pembibitan, pelestarian sumber daya genetik, serta peningkatan kesejahteraan peternak secara berkelanjutan,” ucapnya.

Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan inovasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan usaha peternakan rakyat, serta dukungan terhadap ketahanan dan kemandirian pangan di Aceh.

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait