Aceh Timur – Neknu, seorang pemuda asal pedalaman Aceh Timur, tengah berjuang kembali merintis kebun sawit miliknya seluas kurang lebih 1,5 hektar. Lahan tersebut sebenarnya sudah pernah ditanami dan dalam kondisi bersih, bahkan beberapa pohon sawit telah tumbuh. Namun karena kesibukan, kebun itu sempat terbengkalai hingga berubah menjadi hutan kembali.
“Kiban ta pegeet tema ka hana raseki,” ujar Neknu lirih, mengisyaratkan tekadnya untuk tetap berusaha meski banyak rintangan.
Menurutnya, persoalan terbesar dalam mengelola kebun sawit di pedalaman bukan hanya soal tenaga dan biaya, tetapi juga ancaman hama. Ia menyebutkan, beberapa kali pohon sawit muda dimakan landak, sementara kawanan gajah atau yang disebut warga setempat dengan Tgk Rayek kerap merusak tanamannya.
Kini, Neknu harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membuka kembali lahan yang sudah menjadi hutan. Ia mengakui, pekerjaan ini bukan hal mudah. “Dibilang kalau ongkosnya murah, orang gila pun tak mau kerja,” katanya sembari tertawa getir.
Meski begitu, Neknu tetap optimistis. Persiapan bibit sawit sudah ia lakukan jauh hari, sebagian disemai dekat rumahnya, sebagian lagi ia simpan di lokasi lain. “Untuk bibit sudah cukup, kali ini saya akan serius karena lagi cuti panjang,” ucapnya kepada media ini Minggu (31/8)
Kisah Neknu menggambarkan perjuangan petani muda di pedalaman Aceh Timur dalam menghadapi kerasnya alam dan tantangan ekonomi. Harapannya, kebun sawit yang ia kelola kali ini dapat memberi hasil dan menjadi jalan rezeki yang lebih baik bagi keluarganya.






