BIREUEN – Upaya percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh terus dilakukan melalui berbagai inovasi di sektor konstruksi. Salah satu solusi yang kini diterapkan adalah penggunaan teknologi rumah modular dari Rumah Tahan Gempa (RTG) Rhodas yang mampu menghadirkan hunian permanen dengan proses pembangunan yang lebih cepat, aman, dan berkualitas.
Teknologi rumah modular tersebut diproduksi oleh PT Mara Pratama Indonesia di bawah kepemimpinan Direktur Utama Marzuki Abdullah. Dalam pelaksanaannya, perusahaan bekerja sama dengan CV Pulo Perkasa yang dipimpin T. Musliadi untuk mendukung percepatan pembangunan rumah bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Bireuen.
Direktur CV Pulo Perkasa, T. Musliadi, mengatakan bahwa konsep pembangunan RTG Rhodas berbeda dengan metode konstruksi konvensional yang umumnya membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama. Seluruh komponen bangunan diproduksi terlebih dahulu di pabrik melalui proses fabrikasi yang terstandarisasi dan diawasi secara ketat guna memastikan kualitas konstruksi.
“Setelah seluruh komponen selesai diproduksi dan melewati proses pengendalian mutu, material kemudian dikirim ke lokasi pembangunan untuk dirakit. Dengan sistem ini, waktu pengerjaan di lapangan dapat dipersingkat secara signifikan tanpa mengurangi standar kualitas dan keamanan bangunan,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi prefabrikasi yang diterapkan RTG Rhodas menjadi solusi efektif dalam penyediaan hunian pascabencana. Selain mempercepat proses pembangunan, teknologi ini juga dirancang untuk memberikan perlindungan yang lebih baik melalui struktur bangunan yang kokoh, aman, dan nyaman bagi penghuninya.
Keunggulan lainnya, RTG Rhodas telah memperoleh izin dan pengakuan kelayakan teknologi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan telah melalui berbagai tahapan pengujian dan memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.
Dalam proyek pembangunan huntap di Kabupaten Bireuen, sebanyak 100 unit rumah ditargetkan selesai dibangun untuk masyarakat yang berada di kawasan terdampak dan rawan bencana. Seluruh hunian tersebut akan dibangun di wilayah Kabupaten Bireuen.
Pembangunan huntap ini diharapkan menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, sekaligus memberikan kepastian tempat tinggal yang aman, nyaman, dan layak huni bagi masyarakat penerima manfaat.
Sehubungan dengan telah tersedianya anggaran, perencanaan, serta kesiapan teknologi dan pelaksana pembangunan, masyarakat berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama seluruh pihak terkait dapat segera merealisasikan program rehabilitasi dan rekonstruksi rumah bagi korban banjir di Kabupaten Bireuen.
Harapan tersebut disampaikan agar proses pembangunan tidak lagi mengalami penundaan, mengingat masyarakat korban banjir telah lama menantikan kepastian hunian yang aman dan layak. Dengan dukungan anggaran dan persiapan yang telah tersedia, pelaksanaan pembangunan diharapkan dapat segera dimulai sehingga masyarakat terdampak dapat secepatnya menempati rumah baru mereka.
“Kami berharap tidak ada lagi alasan untuk menunda pelaksanaan pembangunan huntap bagi korban banjir. Semua pihak perlu menunjukkan respons cepat dan memperkuat koordinasi agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan sesuai harapan masyarakat,” ujar salah satu pihak pelaksana.
Melalui kerja sama yang kuat antara BNPB, pemerintah daerah, pelaksana pembangunan, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya, program pembangunan hunian tetap ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana. Dengan tersedianya hunian yang aman dan nyaman, korban banjir dapat kembali menjalani aktivitas secara normal, memulihkan kondisi sosial dan ekonomi keluarga, serta menatap masa depan dengan lebih baik.
Kehadiran rumah modular RTG Rhodas juga menjadi bukti bahwa inovasi teknologi konstruksi mampu berperan besar dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana. Program ini diharapkan menjadi model penanganan perumahan pascabencana yang efektif, modern, dan berkelanjutan di Aceh.







