Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, Jakarta – Telur merupakan salah satu bahan pangan yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos kesehatan. Salah satunya anggapan bahwa terlalu sering mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisulan.
Mitos tersebut kembali menjadi perbincangan setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menceritakan pengalaman masa kecilnya yang terbiasa mengonsumsi telur hingga mengalami bisul karena memelihara ayam di rumah.
Lantas, benarkah telur dapat menyebabkan bisulan atau anggapan tersebut hanya mitos yang telah diwariskan dari generasi ke generasi?
Bisul Disebabkan Infeksi Bakteri
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, menegaskan bahwa anggapan mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisul merupakan mitos.
Menurutnya, bisul merupakan infeksi pada folikel rambut yang umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, bukan akibat mengonsumsi telur.
“Bisulan disebabkan karena adanya inflamasi di folikel rambut gara-gara Staphylococcus aureus, bukan gara-gara si telur,” jelas dr. Yaze.
Secara medis, bakteri tersebut dapat masuk melalui luka kecil atau pori-pori kulit. Bakteri kemudian berkembang dan menyebabkan munculnya benjolan merah yang terasa nyeri serta dapat berisi nanah.
Risiko munculnya bisul dapat meningkat pada sejumlah kondisi, seperti kebersihan kulit yang kurang terjaga, diabetes yang tidak terkontrol, daya tahan tubuh yang menurun, obesitas, hingga gesekan berulang pada kulit.
Hingga saat ini, tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi telur secara langsung dapat menyebabkan bisul.
Alergi Telur Berbeda dengan Bisul
Meski telur bukan penyebab bisul, terdapat kondisi yang mungkin membuat keduanya terlihat saling berkaitan, yaitu alergi telur.
Menurut dr. Yaze, seseorang yang mengalami alergi telur dapat mengalami berbagai reaksi pada tubuh, termasuk gatal, ruam kemerahan, biduran atau urtikaria, pembengkakan pada bibir dan wajah, mual, muntah, diare, hingga sesak napas pada kasus yang berat.
Kondisi tersebut berbeda dengan bisul. Alergi merupakan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein tertentu yang terdapat dalam telur. Sementara itu, bisul merupakan infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan pada folikel rambut dan dapat menghasilkan nanah.
Pada orang yang memiliki alergi telur, rasa gatal dapat memicu kebiasaan menggaruk kulit secara berulang. Garukan tersebut berpotensi menyebabkan luka kecil yang kemudian menjadi jalan masuk bagi bakteri, termasuk Staphylococcus aureus.
Jika terjadi infeksi bakteri pada area tersebut, bisul dapat terbentuk. Dengan demikian, apabila bisul muncul setelah seseorang mengonsumsi telur, penyebabnya bukan kandungan telur secara langsung, melainkan infeksi bakteri yang mungkin terjadi setelah kulit mengalami kerusakan akibat garukan.
Telur Kaya Protein dan Zat Gizi
Terlepas dari mitos yang masih beredar, telur justru dikenal sebagai salah satu bahan pangan yang memiliki kandungan gizi cukup lengkap.
Satu butir telur ayam mengandung sekitar 6–7 gram protein berkualitas tinggi serta berbagai zat gizi penting, seperti lemak, kolin, vitamin A, vitamin D, vitamin B12, riboflavin, selenium, fosfor, dan sejumlah vitamin serta mineral lainnya.
Protein dalam telur juga memiliki nilai biologis yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan tubuh untuk membantu membentuk dan memperbaiki jaringan.
Sementara itu, kandungan kolin berperan dalam berbagai fungsi penting tubuh, termasuk perkembangan otak, fungsi saraf, dan metabolisme.
Menurut dr. Yaze, orang sehat dapat mengonsumsi telur setiap hari dalam jumlah yang wajar.
“Orang sehat normal itu makan satu butir telur sehat-sehat aja, aman-aman aja. Bahkan dalam satu minggu 5 sampai 7 butir telur itu boleh,” ujarnya.
Konsumsi telur secara rutin juga dapat membantu memenuhi kebutuhan protein harian, mempertahankan massa otot, serta meningkatkan rasa kenyang yang dapat mendukung pengendalian berat badan.
Dengan demikian, anggapan bahwa sering makan telur dapat menyebabkan bisulan tidak memiliki dasar medis yang kuat. Bagi orang yang sehat dan tidak memiliki alergi terhadap telur, makanan ini tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Jika setelah mengonsumsi telur muncul reaksi seperti gatal, biduran, pembengkakan, muntah, atau kesulitan bernapas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memastikan apakah terdapat alergi atau kondisi kesehatan lainnya.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






