acehindependent.com – Enam tahun lamanya aku menabung. Setiap rupiah yang kutahan dari jajan, setiap keringat lembur yang kuteteskan, semua kusimpan dengan satu harapan: agar suatu hari kami bisa membangun rumah sederhana untuk keluarga kecilku. Perlahan, tabungan itu terkumpul hingga mencapai 70 juta. Bagiku, itu bukan sekadar angka itu mimpi, itu kerja keras, itu masa depan.
Namun suatu hari, ketika aku mengecek rekening, aku hampir tak bisa bernapas. Nol. Habis tak bersisa. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku menatap layar ponselku berulang kali, berharap mataku salah melihat. Tapi tidak. Semua uang itu benar-benar hilang.
Dengan hati gemetar, aku tanyakan pada suamiku. Awalnya ia diam, hanya menunduk, lalu berulang kali meminta maaf. Aku histeris, aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku runtuh. Setelah kuselidiki, barulah kebenaran yang paling pahit terbuka: semua tabungan yang kukumpulkan dengan penuh perjuangan habis dipakai untuk bermain sl0t.
Ya Allah… aku tak habis pikir. Betapa beratnya aku menahan lapar, menghemat belanja, menahan diri untuk tidak membeli apa-apa hanya agar uang itu bisa terkumpul. Dan kini semuanya lenyap begitu saja, dihancurkan oleh orang yang seharusnya menjadi sandaran hidupku.
Saking kecewanya, aku bahkan sempat menggugat cerai. Aku menangis sambil berkata aku sudah tak sanggup lagi. Namun suamiku bersimpuh, berjanji tak akan mengulanginya lagi. Aku luluh. Bukan karena aku sudah memaafkan, tapi karena aku memikirkan anakku. Kasihan kalau harus kehilangan ayahnya.
Meski begitu, luka di hatiku masih ada. Aku masih benci padanya. Aku tak lagi mau mencuci bajunya, tak lagi mau memasakkan untuknya. Semuanya kubiarkan ia urus sendiri. Entah sampai kapan aku bisa benar-benar memaafkan. Aku hanya tahu satu hal: kepercayaan yang sudah hancur, butuh waktu lama untuk kembali utuh jika memang masih bisa utuh lagi.
Disclaimer: Cerita ini hanyalah curahan hati dan pengalaman pribadi. Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, semata-mata sebagai pembelajaran dan refleksi bersama.






