Pemulihan akses air bersih dan sanitasi menjadi kebutuhan krusial, mengingat terbatasnya sumber air layak dapat berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, serta menghambat aktivitas harian warga. Oleh karena itu, intervensi di sektor air bersih ini tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga menjadi pondasi penting bagi pemulihan sosial dan kesehatan masyarakat di lokasi terdampak.
Ketua PKM Bidang Air Bersih dan Sanitasi, Prof. Dr. Ir. Akhyar, S.T., M.P., M.Eng menjelaskan, pendekatan teknis dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan kegiatan di lapangan.
“Pembangunan 15 sumur ini dirancang sesuai kondisi hidrogeologi setempat dan kebutuhan warga. Pengoperasian tiga mesin pengeboran secara bersamaan memungkinkan percepatan pekerjaan sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat Desa Rhing Mancang,” jelas Prof. Akhyar.
Sementara itu, Ketua Satgas Respons Senyar USK, Prof. Syamsidik menerangkan, program PKM ini menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan berbasis keilmuan yang dijalankan USK.
“Pemulihan akses air bersih dan sanitasi merupakan kebutuhan mendasar pascabencana. Melalui PKM Dikti Saintek ini, USK hadir tidak hanya dalam fase tanggap darurat, tetapi juga mendorong pemulihan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui program PKM Diktisaintek–USK, Universitas Syiah Kuala menegaskan komitmennya dalam mengintegrasikan tridarma perguruan tinggi dengan upaya pemulihan pascabencana, khususnya dalam memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak sebagai fondasi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.







