ACEH INDEPENDENT, Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) mengoptimalkan peran riset dan inovasi sebagai landasan dalam menjawab berbagai tantangan global melalui penyelenggaraan The 16th Annual International Conference (AIC 2026).
Maka dirinya menilai untuk menghadapi tantangan yang saling berkaitan tersebut perlu adanya kolaborasi lintas disiplin ilmu. Semangat kolaborasi inilah yang menjadi ciri khas AIC, seperti tahun ini ada tiga bidang utama yang menjadi perhatian USK yaitu Sains dan Teknik, Ilmu Lingkungan dan Ilmu Hayati, serta Ilmu Sosial.
Prof. Melinda mengungkapkan, saat ini Panitia menerima lebih dari 400 naskah dan sekitar 370 naskah dinyatakan layak untuk dipresentasikan setelah melalui proses penelaahan. Hal ini menunjukkan tingkat penerimaan sekitar 92,5 persen.
Para peserta yang berkontribusi berasal dari sembilan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Prancis, Hungaria, Taiwan, Amerika Serikat, Filipina, dan Yordania. Menurutnya, partisipasi internasional ini menunjukkan bahwa AIC terus berkembang menjadi wadah pertemuan bagi para akademisi dari berbagai wilayah dan latar belakang budaya.
“Hal ini sekaligus membuka peluang untuk bertukar perspektif serta membangun jejaring dan persahabatan akademik yang baru,” ucapnya.
Forum Ilmiah ini menghadirkan Keynote Speaker yang merupakan peneliti dunia. Mereka adalah Prof. franck Lavigne dari Université Paris, Perancis. Lalu Prof. Kornkanok Inkaninan dari Naresuan University, Thailand. Prof. Heather Linville dari University of Winconsin, Amerika Serikat. Serta Ts. Tan Pei Chin dari Fly Technology Agriculture Sdn.Bhd, Malaysia.
Selain itu, untuk Invited Speaker adalah Prof. Dr. Rina Sriwati, M.Si, Prof. Dr. Mailizar, S.Pd., M.Ed dan Prof. Dr. M. Shabri, S.E., M.Ec yang merupakan para peneliti terkemua USK. Serta W.K. Wong yang merupakan peneliti dari Curtin University Malaysia.
Dr. Ramzi mengatakan, atas nama pimpinan Universitas, dirinya menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak terhadap kesuksesan forum ilmiah ini. Khususnya para Keynote Speaker yang bersedia untuk membagi ilmu dan pengalamannya pada Konferensi Internasional ini.
Dr. Ramzi mengungkapkan, sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2011, AIC terus berkembang menjadi wadah bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan negara untuk berbagi gagasan, bertukar pengetahuan, serta membangun kolaborasi yang bermakna.
Menurutnya, pencapaian ini tentu tidak akan terwujud tanpa dedikasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK serta dukungan seluruh komunitas akademik USK dan para mitra.
“Kini, setelah enam belas kali penyelenggaraan, kami bangga melihat AIC berkembang menjadi salah satu forum akademik penting di Universitas Syiah Kuala,” ucapnya.





