Lewat Digitalisasi, Universitas Almuslim Bangkitkan UMKM Dapur Binros di Bireuen Pasca-Banjir Bandang

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

ACEH INDEPENDENT, Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Dapur Binros di Dusun Ie Meuse, Desa Blang Panjoe, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, berhasil bangkit dari keterpurukan pascabencana. Usaha kuliner jenis bakeri milik Rosita (42) tersebut kini kembali berproduksi secara stabil hingga 200 unit kue per minggu setelah sempat lumpuh akibat terjang banjir bandang delapan bulan lalu.

Bencana banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada 26 November 2025 meluluhlantakkan aset tempat produksi Dapur Binros. Selain merusak peralatan utama, genangan air meluap dengan cepat dan menghanyutkan seluruh pembukuan keuangan manual usaha yang dirintis sejak 2017 tersebut. Dampaknya, volume produksi harian yang biasanya mencapai 150 hingga 200 unit kue dari delapan varian langsung merosot tajam menjadi kurang dari 20 unit saja. Pemasaran pun terhenti total karena usaha yang menopang sekitar 70 persen pendapatan keluarga Rosita ini belum memiliki jaring pengaman berupa sistem pemasaran digital.

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

“Air datang begitu cepat, kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa. Alat produksi rusak, catatan usaha yang saya tulis manual selama ini juga ikut hanyut,” kenang Rosita pada Sabtu (8/8/2026).

Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat gabungan dari Universitas Almuslim dan Universitas Malikussaleh hadir memberikan pendampingan intensif. Tim yang diketuai oleh Syarifah Maihani bersama anggota Imam Muslem R, Dewi Fitria Marlisa, serta dibantu mahasiswa Fikom Universitas Almuslim, Mifzal, merancang program intervensi selama delapan bulan melalui lima tahapan strategis, mulai dari sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, hingga pendampingan dan pemantauan keberlanjutan.

Syarifah Maihani menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menyelesaikan masalah produksi, tata kelola, dan kehadiran digital usaha secara partisipatif. “Kami tidak ingin hanya membantu memperbaiki peralatan yang rusak, tapi juga membangun kebiasaan baru dalam mencatat dan memasarkan usaha secara digital, supaya mitra punya jaring pengaman kalau bencana serupa terjadi lagi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tim datang untuk mendengarkan kebutuhan riil di lapangan dan merusun rencana kerja bersama Rosita.

Melalui program ini, tim merehabilitasi sarana produksi seperti oven gas tiga loyang, mixer adonan, showcase pendingin, dan alat masak pendukung lainnya. Hasilnya, angka produk gagal dapat ditekan hingga tersisa 5 persen. Di sisi pemasaran, Dapur Binros kini aktif memanfaatkan jejaring Instagram Business, WhatsApp Business, hingga etalase pasar digital (marketplace).

Sistem pencatatan keuangan manual yang hilang kini diganti dengan aplikasi pencatatan digital berbasis penyimpanan cloud. Tim juga menyusun dokumen Business Continuity Plan (BCP) sebagai panduan mitigasi dan perlindungan aset jika bencana alam kembali terjadi. Alhasil, pesanan kue kini mulai berdatangan dari luar kecamatan hingga kabupaten tetangga.

“Sekarang pesanan sudah mulai datang dari luar kecamatan, bahkan ada yang dari kabupaten tetangga. Dulu itu tidak pernah terjadi, karena orang hanya tahu Dapur Binros dari mulut ke mulut saja,” kata Rosita.

Program pengabdian ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Pengabdian Kemitraan Masyarakat, dengan dukungan teknis LPPM Universitas Almuslim. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 1 mengenai pengentasan kemiskinan, poin 5 tentang kesetaraan gender, dan poin 8 terkait pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.

Sumber: METROPOLIS.ID — baca artikel asli.

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait