Warga Aceh Minta Penindakan Live TikTok Jual HP Murah Diduga Menyesatkan

Salman Syarif menunjukkan kekecewaannya setelah mengaku menerima handphone yang tidak sesuai spesifikasi usai membeli melalui siaran langsung TikTok.
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

Banda Aceh – Maraknya praktik penjualan telepon genggam murah melalui siaran langsung di media sosial TikTok kembali menuai sorotan. Seorang warga Aceh, Salman Syarif, mengaku menjadi korban dugaan penjualan handphone dengan spesifikasi yang tidak sesuai seperti yang ditampilkan saat siaran langsung (live) berlangsung.

Salman mengaku kecewa setelah membeli sebuah handphone murah melalui akun TikTok bernama @raisaflloiz yang diduga menggunakan tampilan produk dan merek ternama untuk menarik perhatian calon pembeli. Namun, setelah barang diterima, produk yang datang disebut jauh berbeda dari apa yang dipromosikan selama siaran langsung.

Bacaan Lainnya

Menurut Salman, pengalaman tersebut menjadi pelajaran pahit sekaligus peringatan bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat membeli barang elektronik dengan harga tidak wajar di platform media sosial.

Ia menyebutkan, saat siaran langsung berlangsung, penjual memperlihatkan handphone yang tampak menyerupai produk-produk merek terkenal dengan tampilan menarik dan spesifikasi yang meyakinkan. Harga murah yang ditawarkan membuat banyak calon pembeli tergiur untuk segera melakukan pemesanan, terlebih dengan sistem pembayaran cash on delivery (COD) yang dianggap lebih aman oleh sebagian masyarakat.

Namun kenyataannya, kata Salman, barang yang diterima tidak sesuai dengan ekspektasi maupun spesifikasi yang dipromosikan. Hal ini membuat dirinya merasa dirugikan sebagai konsumen.

“Kami minta agar pemerintah menertibkan akun live TikTok yang diduga menjual HP murah dengan mencatut brand ternama, seperti Samsung, Oppo, dan merek-merek terkenal lainnya. Karena sangat merugikan konsumen. Barang yang dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi yang diperlihatkan saat live,” kata Salman Syarif, Sabtu (23/5/2026).

Salman menilai fenomena ini bukan hanya menimpa dirinya semata, melainkan telah menjadi persoalan yang lebih luas di tengah meningkatnya tren belanja daring melalui media sosial. Banyak masyarakat, menurutnya, mudah percaya karena penjual menampilkan visual produk secara langsung dan meyakinkan saat siaran berlangsung.

Ia mengatakan, strategi pemasaran melalui live TikTok sering kali memanfaatkan psikologi pembeli dengan menawarkan harga jauh di bawah pasaran, stok terbatas, hingga promo kilat yang membuat calon konsumen terburu-buru mengambil keputusan.

“Banyak masyarakat tergiur karena tampilannya meyakinkan dan harganya murah. Tapi setelah diterima, ternyata produknya berbeda dari yang ditunjukkan saat live. Ini sangat merugikan,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Salman meminta pemerintah, khususnya kementerian yang membidangi komunikasi dan ruang digital, untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap akun-akun yang diduga menjalankan praktik penjualan menyesatkan di platform media sosial.

Ia berharap adanya langkah konkret berupa penindakan terhadap akun-akun yang diduga mencatut nama maupun tampilan merek terkenal guna membangun kepercayaan palsu di mata konsumen.

Menurutnya, jika kondisi ini dibiarkan tanpa pengawasan, jumlah korban berpotensi semakin meningkat karena tingginya penggunaan media sosial sebagai sarana transaksi jual beli di Indonesia.

“Kemkomdigi harus menindak akun-akun live TikTok tersebut. Jika dibiarkan, akan semakin banyak masyarakat Indonesia yang dirugikan karena membeli barang yang tidak sesuai spesifikasi saat diterima pelanggan,” tegas Salman.

Tidak hanya meminta perhatian pemerintah, Salman juga mendesak aparat kepolisian untuk turut mengusut dugaan praktik penipuan yang dilakukan melalui fitur live di media sosial.

Ia menilai penggunaan merek ternama untuk meyakinkan pembeli berpotensi menyesatkan masyarakat dan dapat masuk ke ranah hukum apabila terbukti mengandung unsur penipuan atau penyampaian informasi palsu kepada konsumen.

“Kami minta polisi jangan hanya diam. Perbuatan menipu sudah masuk ranah pidana, apalagi jika pelaku menggunakan merek terkenal untuk meyakinkan masyarakat agar membeli produk yang dijual. Ini penting agar dugaan praktik penipuan lewat live TikTok tidak semakin meluas,” katanya.

Kasus yang dialami Salman menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati saat berbelanja daring, khususnya melalui siaran langsung media sosial yang menawarkan harga jauh di bawah pasaran. Konsumen diimbau memeriksa reputasi toko, membaca ulasan pembeli lain, memastikan detail spesifikasi produk, serta menghindari keputusan membeli secara tergesa-gesa hanya karena tergiur promo sesaat.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait